BACAHUKUM.COM, ACEH TENGAH – Kelangkaan gas elpiji pascabanjir dan longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tengah tidak serta-merta mematahkan semangat warganya. Di tengah keterbatasan distribusi logistik, justru terpancar ketangguhan dan daya juang masyarakat yang memilih bertahan dengan cara-cara sederhana, memanfaatkan kearifan lokal, dan memperkuat solidaritas.
Dapur Tetap Mengepul Berkat Sungai Peusangan
Senin, 15 Desember, suasana tak biasa terlihat di sepanjang aliran Sungai Peusangan. Pemandangan ini jauh dari kesan panik. Warga dari berbagai usia—mulai dari orang tua hingga anak-anak muda—tampak berkumpul dengan penuh kesabaran di tepian sungai. Misi mereka satu: berburu kayu glondongan yang hanyut terbawa arus deras.
Kayu-kayu tersebut dikumpulkan untuk dijadikan bahan bakar utama memasak, menggantikan gas elpiji yang kini langka dan mahal pascabencana. Fenomena ini menjadi simbol kembalinya masyarakat Gayo ke ‘cara lama’ sebagai solusi cepat di masa darurat.

Kekuatan Alam dan Arus Danau Laut Tawar
Fenomena unik ini tak lepas dari kuatnya arus Danau Laut Tawar yang bermuara ke Sungai Peusangan. Dalam beberapa hari terakhir, hembusan angin timur yang bertiup dari kawasan Bintang menuju pusat kota diduga mempercepat pergerakan air danau.
Arus kencang ini mendorong kayu-kayu dari hulu dan tepi danau hingga mengalir deras menyusuri Sungai Peusangan. Arus ini melintas melalui sejumlah kampung, termasuk Desa Bale dan Desa Asir, yang kini menjadi titik favorit warga untuk menanti ‘kiriman’ kayu hanyut.
Gotong Royong di Tepi Sungai
Dengan penuh kesabaran, warga berdiri bergantian di pinggir sungai, memperhatikan arus air yang membawa potongan kayu berukuran besar maupun kecil. Setiap kali kayu melintas, mereka sigap menariknya ke daratan. Adegan ini memperlihatkan kerja sama yang indah: warga bekerja sama tanpa banyak bicara, seolah telah memahami peran masing-masing dalam upaya kolektif ini.
Salah seorang warga Desa Asir, Ridwan (47), mengungkapkan bahwa kondisi ini sudah menjadi pilihan terbaik di tengah keterbatasan.
“Gas susah didapat, mau tidak mau kami kembali ke cara lama. Alhamdulillah, arus danau membawa kayu. Ini sangat membantu untuk dapur kami. Selama masih ada sungai dan kebersamaan, kami bisa bertahan,” ujarnya penuh optimisme.
Pemandangan heroik ini menjadi cermin kuatnya hubungan masyarakat Gayo dengan alam. Di saat bantuan dan distribusi logistik belum sepenuhnya normal, alam kembali menjadi penopang kehidupan, dan solidaritas menjadi energi utama.
Di tengah derasnya arus Danau Laut Tawar dan Sungai Peusangan, mengalir pula semangat pantang menyerah masyarakat Aceh Tengah—sebuah pesan bahwa bencana boleh datang silih berganti, namun harapan dan kebersamaan akan selalu menemukan jalannya. (Kjp)
Sumber: SuaraParlemen.co

