Festival Literasi Kebudayaan III – Gotong Royong Melestarikan Budaya, Menjaga Sastra Tutur Muratara dari Ancaman Kepunahan

BacaHukum.com, Muara Rupit – Yayasan Elang Muda Tepi Barat melalui program Pelopor Budaya Literasi resmi mengumumkan hasil pelaksanaan Festival Literasi Kebudayaan III bertema “Gotong Royong Melestarikan Budaya, Menjaga Sastra Tutur Muratara dari Ancaman Kepunahan, Temu Budayawan Pelestari Alam Lintas-Generasi, Lawan Pengrusakan”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 24 November 2025, bertempat di Aula Siti Rahma, RM Sederhana, Musi Rawas Utara.

Kegiatan Festival ini dibuka langsung oleh Asisten Perekonomian dan Pembagunan Bapak Efendi , S.H, M.Si.  Beliau sangat mendukung kegiatan festival literasi kebudayaan III, dan berterima kasih kepada yayaysan elang muda tepi barat telah melakukan kegiatan literasi kebudaayn III, Semoga kegiatan ini terus di lakukan setiap tahun nya dan menjadi wadah bagi anak anak siswa/siwi di kabupaten musi rawas utara. Direktur Eksekutif Yayasan Elang Muda Tepi Barat, Candra Hanafia, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaksanaan Festival Literasi Kebudayaan III merupakan upaya nyata untuk melestarikan budaya daerah yang mulai terlupakan oleh perkembangan zaman yang semakin modern.

Ia menegaskan bahwa sastra tutur, kesenian tradisional, dan nilai-nilai kearifan lokal harus terus dihidupkan agar tetap menjadi identitas sekaligus kebanggaan masyarakat Muratara. Kemudian, Ketua Pelaksana (Meisi Sari), dalam laporannya menyampaikan bahwa penyelenggaraan Festival Literasi Kebudayaan III terlaksana berkat semangat gotong royong seluruh panitia dan dukungan berbagai pihak. Ia menegaskan bahwa festival ini bukan hanya ajang kompetisi, tetapi wadah penting untuk menghidupkan kembali tradisi seperti Nandai yang menjadi identitas masyarakat Musi Rawas Utara.

Festival ini merupakan bentuk komitmen bersama dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya lokal, khususnya sastra tutur Muratara yang kini menghadapi ancaman kepunahan akibat modernisasi dan perubahan sosial. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Efendi, S.H., M.Si) yang mewakili Bupati Musi Rawas Utara, serta berbagai instansi dan lembaga, di antaranya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Muratara, Kementerian Agama Muratara melalui Kasi Pendis (Abdul Haris Nasution, M.Pd), Kesbangpol, perwakilan Kapolres (Briptu Eka dan Bripda Ade Gustriana), serta beberapa perwakilan dari organisasi kepemudaan (OKP) seperti Karang Taruna, KAMMI, dan lainnya.

Ada 2 agenda utama dalam acara Festival Literasi Kebudayaan III, yaitu:

  1. Pengukuhan Duta Literasi Sekolah Dengan menetapkan 11 peserta terpilih sebagai Duta Literasi Sekolah Tahun 2025:
  • Tiara Putri Romadani – MA Al-Istiqomah
  • Relita Kirana – SMA Negeri Napal Licin
  • Febrizky Yudha Erlangga – SMA Negeri Nibung
  • Dina Fuja Agustina – SMA Negeri Rupit
  • Luna Inaya – SMA Negeri Rupit
  • Rana Wijaya – SMA Negeri Surulangun
  • Mardiyani – SMK Negeri Rawas Ulu
  • Rani Putri Juita – SMK Negeri Rawas Ulu (Lokal Jauh)
  • Murhida Yatun Tavesa – SMK Negeri Rawas Ulu (Lokal Jauh)
  • Rensa Saputra – SMA Negeri Surulangun
  • Baim Idha Mauri – SMA Negeri Rupit

2. Pelaksanaan lomba terdiri dari tiga cabang lomba seni dan literasi bagi pelajar tingkat MTs dan SMA/SMK/MA, antara lain: Deklamasi Puisi, Sastra Tutur Nandai dan Gitar Tunggal/Berpasangan. Adapun juri-juri dalam perlombaan ini yaitu Suvardi Tampu Bolon, S.Pd., M.Pd., Ridho Amilin, HE, S.Sn. Gr., dan Lidia Kartika, S.E.,M.M. Berikut nama-nama juara dari ketiga cabang lomba tersebut, antara lain:

  • Lomba Deklamasi Puisi

Adapun nama-nama juara lomba Deklamasi Puisi, antara lain:

– Juara 1 : Mardiyana

– Juara 2 : Nur Fika Kurnia

– Juara 3 : Alexa Andini

– Harapan 1 : Anggi Ravita

– Harapan 2 : Nurtanzilal Nilhakim

– Harapan 3 : Nahla Jelia Derifa

  • Lomba Sastra Tutur Nandai

Adapun nama-nama juara lomba Sastra Tutur Nandai, antara lain:

– Juara 1 : Nazurah Mufazal

– Juara 2 : M. Randi Muslim Hidayat

– Juara 3 : Ra’afi Wijaya Utama

– Harapan 1 : Maisya Anggrianti

– Harapan 2 : Inggri Meynika

– Harapan 3 : Reksi Febrianto

  • Lomba Gitar Tunggal/Berpasangan

Adapun nama-nama juara lomba Gitar Tunggal/Berpasangan, antara lain:

– Juara 1 : Sapta Muji Perdian & Lurya Xandra Muditha

– Juara 2 : Valentino Raliski & Chika Alea Inkah

– Juara 3 : Ayu Alka Fitri & Tirtayoka

Festival Literasi Kebudayaan III resmi diselenggarakan sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga dan melestarikan budaya daerah, khususnya sastra tutur Muratara yang kini menghadapi ancaman kepunahan. Agenda kegiatan tersebut tidak hanya menampilkan warisan budaya Muratara, tetapi juga mengangkat kembali nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini menjadi fondasi hubungan masyarakat dengan lingkungan dan sejarah daerah. “Sastra tutur Muratara tidak hanya seni bertutur, tetapi juga identitas masyarakat yang harus dijaga secara bersama-sama.”

Pelaksanaan festival ini menjadi momentum penting untuk:

  • Membangkitkan kembali pelestarian sastra tutur Muratara
  • Menggerakkan komunitas budaya dan pemuda
  • Memperkuat literasi berbasis kearifan lokal
  • Menumbuhkan kepedulian terhadap ancaman terhadap identitas budaya

Festival Literasi Kebudayaan III diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam merawat kekayaan lokal, membangun kesadaran lintas generasi, serta memastikan sastra tutur Muratara tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Festival Literasi Kebudayaan III berhasil menjadi ruang kolaborasi dan penguatan identitas budaya Muratara. Melalui rangkaian lomba kreatif seperti lomba puisi, sastra tutur (nandai), serta gitar tunggal dan berpasangan untuk tingkat MTs dan SMA/SMK/MA, festival ini tidak hanya menampilkan bakat generasi muda, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan seni daerah.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya lewat wacana, tetapi perlu diwujudkan melalui praktik nyata yang melibatkan masyarakat dan pelajar sebagai pewaris budaya. Partisipasi aktif para peserta menunjukkan bahwa sastra tutur, kesenian tradisi, dan nilai kearifan lokal masih hidup dan dapat terus dikembangkan di era modern.

Masukan dari Dewan Juri (Ridho Amilin) mengatakan bahwa untuk peningkatan kualitas penampilan di masa mendatang, peserta lomba Sastra Tutur Nandai disarankan untuk:

  • Menggunakan atribut pendukung agar penampilan lebih hidup,
  • Menampilkan ekspresi yang lebih menjiwai, sesuai makna cerita yang disampaikan,
  • Serta diperbolehkan untuk membawakan cerita yang tidak harus sepenuhnya sesuai dengan teks, selama nilai budaya dan karakter pertunjukannya tetap terjaga.

Dengan semangat gotong royong, festival ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan budaya Muratara, memperkuat literasi tradisi di kalangan remaja, sekaligus menjaga keberlanjutan sastra tutur agar tidak hilang ditelan zaman dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Adapun rekomendasi Festival Literasi Kebudayaan III:

  1. Mendorong Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Muratara untuk memasukkan sastra tutur Nandai, tradisi lokal, dan kebudayaan daerah lainnya ke dalam kurikulum muatan lokal serta program penguatan karakter peserta didik.
  2. Meminta DPRD Muratara untuk merumuskan dan mengesahkan regulasi yang memperkuat perlindungan, pengembangan, dan pelestarian kesenian tradisional, termasuk pengakuan formal terhadap sastra tutur sebagai warisan budaya daerah.
  3. Mendorong Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Muratara untuk memperluas akses literasi budaya melalui perpustakaan sekolah, pojok baca budaya, serta digitalisasi arsip budaya lokal seperti syair, nandai, dan dokumentasi kesenian tradisi.
  4. Mengajak generasi muda Muratara untuk aktif berpartisipasi sebagai pelopor pelestarian budaya melalui kegiatan seni, klub literasi, komunitas pemuda, serta kolaborasi kreatif berbasis kearifan lokal.
  5. Menginisiasi gerakan pelestarian budaya di setiap lini pemerintahan dan masyarakat, termasuk mendorong sekolah, desa, dan organisasi kepemudaan untuk mengadakan agenda rutin bertema budaya, seperti lomba nandai, pembacaan puisi, dan pertunjukan seni tradisional.

Editor: Tim BacaHukum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top