BACAHUKUM.COM, JAMBI – Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, menghadiri kegiatan bedah buku Babad Alas karya Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi kepemimpinan yang dinilai penting bagi kepala daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Diza menyampaikan apresiasi atas isi buku yang mengangkat pengalaman langsung Bima Arya selama memimpin daerah.
Menurutnya, pengalaman yang dibagikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga menggambarkan realitas kepemimpinan yang kompleks di lapangan.
“Pengalaman yang disampaikan sangat relevan dan bisa menjadi referensi bagi kepala daerah dalam menjalankan pemerintahan,” ujar Diza.
Ia menilai, dinamika birokrasi dan tekanan kepentingan yang dihadapi kepala daerah saat ini membutuhkan pemahaman yang matang serta strategi yang tepat.
Diza juga menegaskan bahwa forum seperti bedah buku ini penting untuk memperkaya perspektif para pemimpin daerah dalam mengambil kebijakan publik.
“Ini bukan hanya diskusi buku, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bersama tentang bagaimana menghadapi tantangan kepemimpinan secara nyata,” tambahnya.
Sementara itu, dalam paparannya, Bima Arya mengungkapkan bahwa fase paling berat dalam kepemimpinan justru terjadi setelah seseorang terpilih sebagai kepala daerah.
Ia menyebut, proses politik seperti kampanye tidak sebanding dengan tantangan saat menjalankan pemerintahan.
“Tantangan sesungguhnya dimulai setelah dilantik. Di situlah kompleksitas kepemimpinan benar-benar diuji,” kata Bima Arya.
Menurutnya, seorang kepala daerah harus mampu menghadapi berbagai kepentingan yang saling beririsan, baik dari internal birokrasi maupun eksternal politik.
Ia juga menyoroti pentingnya kemampuan membaca situasi, karena dalam praktiknya tidak selalu jelas siapa yang menjadi kawan atau lawan.
Selain itu, Bima Arya menekankan bahwa keberanian dalam memimpin harus diimbangi dengan kebijaksanaan.
“Keberanian penting, tetapi harus dibarengi dengan nilai dan kebijaksanaan agar kebijakan yang diambil tidak menimbulkan persoalan baru,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya konsistensi antara visi, ucapan, dan tindakan seorang pemimpin.
Menurutnya, kepercayaan publik hanya dapat dibangun jika pemimpin mampu menunjukkan integritas dalam setiap keputusan.
“Pemimpin harus punya nilai, strategi, dan konsistensi. Tanpa itu, kepemimpinan akan mudah goyah,” tegasnya.
Kegiatan bedah buku ini diharapkan menjadi inspirasi bagi kepala daerah untuk terus meningkatkan kapasitas kepemimpinan.
Selain itu, forum ini juga menjadi wadah pertukaran gagasan dalam menghadapi tantangan pemerintahan yang semakin kompleks.
Sejalan dengan itu, Pemerintah Kota Jambi sendiri terus mendorong peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan melalui berbagai program strategis yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. (Izul)

